
Keterangan Gambar : Ditulis oleh Raden Siska Marini
April selalu hadir bukan sekadar sebagai penanda kalender, tetapi sebagai momen epistemik bagi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia—ruang untuk menguji apakah kaderisasi masih bekerja sebagai proses pembebasan intelektual, atau justru diam-diam membiarkan ruang-ruang belajarnya meredup.
Sebagai organisasi kaderisasi, PMII sejak awal dibayangkan bukan hanya sebagai wadah berhimpun, melainkan sebagai ekosistem pengetahuan. Sebuah ruang hidup di mana ide, pengalaman, dan refleksi saling bertemu, dipertukarkan, lalu berkembang menjadi kesadaran kritis.
Dalam horizon Sosiologi Pendidikan, ekosistem tidak pernah berdiri dari keberadaan semata, melainkan dari distribusi akses. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai arena perebutan capital—di mana akses terhadap pengetahuan menentukan siapa yang mampu bertahan dan berkembang. Sementara Amartya Sen menegaskan bahwa tanpa kebebasan riil untuk belajar, individu tidak pernah benar-benar memiliki kapasitas untuk menjadi.
Di titik ini, diaspora kader bukan hanya soal penyebaran, tetapi mekanisme sirkulasi pengetahuan. Ia menjaga agar pengalaman tidak berhenti pada individu, melainkan kembali menjadi energi kolektif.
Namun, di tengah idealitas itu, ada satu kenyataan yang kerap luput: ekosistem- ekosistem belajar sebenarnya telah terbentuk, tetapi tidak seluruhnya terawat. Ia tidak runtuh, tetapi dibiarkan meredup.
Ruang-ruang diskusi mengecil, arus informasi tidak selalu menjangkau semua, dan inisiatif kader tidak selalu menemukan tempatnya. Bukan karena tidak ada potensi, tetapi karena aksesnya tidak cukup terbuka.
Di sinilah persoalan menjadi struktural. Ketika akses belajar menyempit, yang hilang bukan hanya kesempatan, tetapi kesinambungan. Kader masuk ke dalam ruang yang tidak sepenuhnya tersambung—fragmentaris, terputus, dan miskin dialektika.
Akibatnya, kaderisasi tetap berjalan, tetapi kehilangan daya transformatifnya. Ia hadir sebagai proses, namun tidak sepenuhnya sebagai pengalaman intelektual.
Padahal, ekosistem hanya hidup ketika ada keterhubungan. Ketika pengetahuan mengalir, ketika pengalaman ditransmisikan, dan ketika setiap kader memiliki akses untuk terlibat.
Maka, memperluas akses belajar bukan sekadar membuka ruang baru, tetapi merawat yang sudah ada—menyambungkan kembali yang terputus, dan menghidupkan yang sempat meredup.
April, dalam konteks ini, tidak cukup dirayakan—ia perlu dibaca ulang.
Sebab kaderisasi tidak pernah gagal karena ketiadaan, melainkan karena akses yang dibiarkan menyempit.









LEAVE A REPLY