Home Organisasi Talk Show Pemuda Desa Kadu: Ruang Kolaborasi, Gagasan, dan Harapan Baru Pemuda Desa

Talk Show Pemuda Desa Kadu: Ruang Kolaborasi, Gagasan, dan Harapan Baru Pemuda Desa

Pemuda dan Urbanisasi di Desa Kadu

125
0
SHARE
Talk Show Pemuda Desa Kadu: Ruang Kolaborasi, Gagasan, dan Harapan Baru Pemuda Desa

Keterangan Gambar : Narasumber Acara Talkshow

Karang Taruna Desa Kadu menggelar Talk Show Pemuda Desa Kadu pada Minggu malam, 9 November 2025, dengan tema “Menggali Ide Kreatif Pemuda untuk Membangun Desa.” Kegiatan ini menghadirkan tokoh-tokoh kunci seperti Kepala Desa Kadu, Ketua KNPI Kabupaten Tangerang, Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Fahrizal Azmi, serta Ketua Karang Taruna Desa Kadu terpilih, Fariz Amrullah.

Dipandu oleh Raden Siska Marini, talk show berlangsung dengan suasana cair, interaktif, dan penuh gagasan. Moderator membuka forum dengan menggambarkan kondisi Desa Kadu yang kini mengalami perubahan pesat akibat masuknya dua pengembang besar, tumbuhnya populasi pendatang, serta pola urbanisasi yang makin terasa. Urbanisasi, menurutnya, bukanlah ancaman—selama pemuda tidak hanya menjadi penonton.

Forum ini kemudian bergerak menjadi ruang di mana pemuda, pemerintah, dan wakil rakyat duduk bersama membahas peluang, tantangan, dan arah pembangunan desa.

Sorotan Peran Fahrizal Azmi sebagai Wakil Rakyat

Dalam forum tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Fahrizal Azmi menjadi salah satu narasumber yang paling ditunggu pemuda. Kehadirannya dianggap penting untuk menjawab kegalauan banyak anak muda Desa Kadu: bagaimana agar ide-ide mereka tidak berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar masuk dalam dokumen pembangunan kabupaten.

Fahrizal menjelaskan dengan lugas jalur yang bisa ditempuh pemuda dalam advokasi:

“Pemuda itu punya ruang untuk masuk dalam kebijakan. Gunakan momentum reses, sampaikan aspirasi melalui pemerintah desa untuk masuk RKPDes, dan kawal agar usulannya sampai ke DPRD melalui komisi terkait. Jangan merasa jauh—DPRD adalah rumah aspirasi warga,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa DPRD memiliki instrumen seperti pokok pikiran dewan (pokir), kemitraan dengan OPD, serta jalur advokasi regulatif yang bisa mengakomodasi gagasan kreatif pemuda.

Penjelasan Fahrizal membuat banyak peserta memahami bahwa saluran formal advokasi kebijakan ternyata sangat mungkin dijangkau, selama dikelola secara sistematis.

Kepala Desa dan KNPI: Pemetaan, Partisipasi, dan SDM

Di sisi lain, Kepala Desa Kadu, M. Asdiansyah, memaparkan bahwa pembangunan fisik di desa selama ini harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas SDM, khususnya pemuda. Dengan APBDes yang mencapai hampir Rp6 miliar, ia membuka peluang agar pemuda turut masuk dalam forum perencanaan.

Ketua KNPI Kabupaten Tangerang, M. Yusuf Basnar, menyoroti pentingnya pelatihan soft skill dan program KNPI School yang menargetkan ribuan pemuda yang belum memiliki ijazah formal. Ia menekankan pentingnya pemuda Desa Kadu memiliki daya tawar dalam arus urbanisasi.

Fariz Amrullah: Pemuda Tidak Boleh Menjadi Penonton

Sebagai Ketua Karang Taruna Desa Kadu terpilih, Fariz Amrullah tidak hanya tampil sebagai panitia penyelenggara, tetapi juga menyampaikan visi kepemudaannya. Ia menekankan bahwa Karang Taruna bukan sekadar penyelenggara event, melainkan ruang produksi gagasan.

Dalam testimoninya, Fariz menyampaikan harapan:

“Saya ingin Karang Taruna menjadi rumah gagasan pemuda. Kita bukan penonton pembangunan—kita harus jadi penggeraknya. Semoga diskusi ini jadi langkah awal untuk kerja kolektif yang berkelanjutan, bukan sekadar acara seremonial,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disambut antusias oleh para peserta, yang selama ini merindukan hadirnya wadah pemuda yang lebih strategis.

Forum Interaktif dan Aspirasi dari Akar Rumput

Sesi tanya jawab berlangsung hidup. Moderator menekankan aturan: pertanyaan harus pendek, jelas ditujukan kepada siapa, dan tetap sopan. Peserta menyampaikan isu lingkungan, banjir, drainase, pengelolaan sampah, ruang kreatif, hingga minimnya kegiatan yang mempertemukan warga lama dan pendatang.

Beberapa peserta menyoroti kebutuhan festival budaya dan pelatihan keterampilan pemuda yang lebih intensif. Diskusi berlangsung dinamis dan terasa sangat membumi dengan realitas kehidupan pemuda Desa Kadu.

Langkah Lanjut: Dari Ruang Diskusi ke Aksi Nyata

Acara ditutup dengan seruan bersama bahwa pembangunan desa tidak boleh hanya menunggu datang dari luar. Pemuda, dengan daya kreatif dan keberanian, harus hadir sebagai aktor.

Talk show ini menjadi penanda awal pergerakan baru Karang Taruna Desa Kadu: bergerak dari seremonial menuju ruang kolaborasi, dari penonton menuju penggerak, dan dari wacana menuju aksi konkret.